Konsep Hidup dalam Sholat

KONSEP HIDUP DALAM SHOLAT

Written by: Saefullah Abu Bakar

 

Banyak sekali hakikat dalam sholat yang kita temukan, sholat sebagai tiang agama adalah hak, ciri muslim adalah sholat, nabi sendiri memikirkan umatnya sampai detik ajalnya, dan yang sangat ditekankan adalah sholat.

Dalam melaksanakan sholat, seseorang haruslah berdiri dengan sempurna, kemudian dilanjutkan dengan ruku dan sujud, ketiga posisi ini mengandung banyak makna dari sisi ilmu kesehatan, bisa kita dapati referensi dari makna gerakan sholat dalam buku-buku kesehatan atau artikel yang membahas tentang itu semua.

Kali ini penulis mencoba mengambil hakekat gerakan sholat dari sudut posisi sholat.

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواارْكَعُواوَاسْجُدُواوَاعْبُدُوارَبَّكُمْوَافْعَلُواالْخَيْرَلَعَلَّكُمْتُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, dan sembahlah Tuhanmu, berbuat baiklah kamu, agar kamu termasuk orang-orang yang menang(al-Haj:77)

Otak manusia adalah pusat pengendali semua syaraf dalam tubuh kita, di dalam otak itu sendiri terdapat milyaran sel yang dapat berfungsi maksimal jika manusia itu mau memaksimalkannya.

Otak berada di kepala, bagian yang paling atas dalam tubuh kita.

Ketika sholat, posisi kepala berada di atas saat manusia berdiri, dan berada di tengah ketika manusia ruku’ serta berada di bawah ketika manusia sujud. Apa makna posisi ini?

Hati adalah organ tubuh manusiayang sangat fital, karena hati berfungsi menawar dan menetralkan racun, mengontrol sirkulasi darah, membuat protein plasma, mencegah terjadinya penggumpalan darah. Peran hati sangat strategis dalam menjalani hidup ini, hingga Rosul bersabda bahwa hati dapat berubah setiap saat, jika dia baik, maka semua jasad akan baik, dan bila dia rusak, maka seluruh jasadpun akan rusak, begitu besarnya peran hati manusia.

Ketika sholat posisi hati berada ditengah-tengah, antara kepala dan bagian organ vital manusi, ketika berdiri posisi hati ada di bawah kepala dan di atas organ vital, ketika ruku’ posisi hati sama dengan posisi dua yang lainnya, namun ketika sujud, posisi hati berada di atas kepala dan di bawah organ vital. Adakah makna yang terkandung dari posisi ini?

Organ vital manusia adalah alat untuk reproduksi, lahir anak cucu adam melalui alat tersebut, Allah sangat menekankan hambanya untuk menjaga alat tersebut, dan manusia akan mulya bila dapat menjaganya dengan baik, juga akan menjadi hina, bahkan lebih hina dari binatang, bila tidak dapat menjaganya dengan baik.

Nafsu manusia banyak digambarkan dengan alat vital ini, sebagai imej dan simbol dari hawa nafsu manusia.Bila manusia dapat mengendalikan nafsunya dengan baik, maka akan baik pula hidupnya, bila tidak maka kebalikannya akan terjadi.

Ketika sholat, alat vital berada paling bawah, dibawah hati dan kepala, ketika ruku’, alat vital sejajar dengan keduanya, dan ketika sujud, alat vital berada paling atas.

Apakah makna yang terkandung dari posisi tersebut?

Penulis mencoba mengambil hikmah dari posisi sholat, ketika berdiri, ruku dan sujud. Mencoba mengaitkan dengan strategi hidup.

Dalam hidup ini, kita diperintahkan untuk bersosialisasi dengan manusia, dengan alam dan binatang. Karena semuanya adalah makhluk Allah yang sama-sama diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Tentu saja manusia adalah makhluk paling sempurna yang ditugaskan untuk menjadi kholifah.

Sebagai kholifah, manusia bertugas sebagai pemimpin yang mengatur kehidupan dunia ini dengan baik, sehingga tercipta Baldatun Thoyyibah. Pemimpin untuk dirinya, keluarganya, lingkungannya dan kelompoknya, kullukum ro’in wa kullukum mas’uulun ‘an ro’iyyatihi, setiap manusia adalah pemimpin dan setiap manusia bertanggung jawab kepada rakyatnya.

Dalam memimpin tentulah kendala akan ditemukan, berbagai macam karakter akan ditemukan, baik yang taat, yang apatis maupun yang kontra. Sudah menjadi sunnah.

Hikmah posisi sholat mengajarkan kita dalam memenej sikap, kadang kita mengedepankan akal, di saat yang lain pertimbangan akal, perasaan dan ego seimbang, tapi di waktu lain pula kadang ego harus dikedepankan.

Pemimpin selalu lentur, mempertimbangkan keadaan, mampu menyelesaikan permasalahan dengan bijak dan bajik, strategi yang digunakanpun beragam.

Kandungan sholat dapat membentuk karakter umat jika nilai sholat digunakan dalam kehidupan. Sesuai ayat di atas,syarat menjadi pemenang jika kita dapat berdiri ruku dan sujud ketika sholat, yang hakekatnya adalah menyelesaikan masalah dengan strategi yang tepat, kadang mengedepankan logika, bisa pula menyeimbangkan antara logika, perasaan dan ego, atau bahkan di waktu lain, ego harus dikedepankan.

 

واالله في عون عبده

الفقير

Pemimpin Adil

PEMIMPIN ADIL

Written by: Saefullah Abu Bakar

 

Akhir-akhir ini sedang ramai perbincangan calon gubernur Jakarta, baik dari orang awam sampai kaum elit, dari kalangan buruh sampai kalangan berpendidikan, dari kaum tani sampai kaum sosialita, semua berbicara tentang siapa yang pantas menjabat sebagai gubernur Jakarta.

Suhu politik di Ibu Kota semakin memanas, setelah ditentukan calon gubernur dan pasangannya, ada yang pro dan kontra, itu wajar ditengah dunia perpolitikan saat ini.

Namun yang berbeda dari suhu politik di Jakarta saat ini adalah, suara-suara rasis tentang minoritas tak lagi malu untuk diumbar, agamapun turut dibawa untuk menyalahkan yangberbeda, yang mencengangkan lagi sesama pemeluk berbeda pendapat tentang keabsahan pemimpin dari beda keyakinan, dan sudah barang tentu akan menimbulkan hujat menghujat antar sesama warna.

Sang mayoritaspun bingung dengan kondisi calon yang ada, mencari calon yang cocok dengan selera tak diketemukan, tidak sedikit yang bingung, dan pada akhirnya, walau pilkada masih jauh, sudah memutuskan untuk tidak memilih.

“Pemimpin yang adil” adalah idaman setiap manusia, sama warna maupun beda, ketokohan para pemimpin sebelumnya di muka bumi ini sebagai standar keadilan tersebut, berawal dari kepemimpinan Rosulullah, Khulafa al-Rosyidin dan para penguasa setelahnya menjadi tolok ukur kepemimpinan yang adil tersebut.

Menukil dari satu hadits:

:  عن أبيهريرةرضياللهعنهعنالنبيصلىاللهعليهوسلمقال: “سبعةيظلهماللهفيظلهيوملاظلإلاظله: الإمامالعادل،وشابنشأفيعبادةالله،ورجلقلبهمعلقفيالمساجد،ورجلانتحابافياللهاجتمعاعليهوتفرقاعليه،ورجلدعتهامرأةذاتمنصبوجمال،فقالإنيأخافالله،ورجلتصدقبصدقةفأخفاهاحتىلاتعلمشمالهماتنفقيمينه،ورجلذكراللهخالياففاضتعيناه” .

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allahسبحانهوتعالىpada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya[Q1]. (1) Pemimpin yang adil, (2) Seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Allahسبحانهوتعالى (3) Seorang yang hatinya selalu terikat pada masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai kerana Allahسبحانهوتعالىberkumpul dan berpisah kerana Allah juga, (5) Seorang lelaki yang diajak zina oleh wanita yang kaya dan cantik tapi ia menolaknya sambil berkata ‘Aku takut kepada Allah’, (6) Seseorang yang bersedekah dengan menyembuyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, serta (7) Seorang yang berzikir kepada Allah di kala sendiri hingga meleleh air matanya[Q2] basah kerana menangis.” (Sahih Bukhari, Hadis no 620)

Dari hadits di atas kita pahami bahwa pemimpin yang adil mendapat derajat nomor satu dari yang lainnya dalam mendapatkan lindungan Allah.Adil dalam bahasa berarti tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran. Kata adil merupakan serapan dari bahasa arab, yang berarti memberikan kepada seseorang apa yang seharusnya dia terima.(al washith). Dari makna adil, tidak mungkin kita ketahui seseorang itu adil, kecuali setelah dia memimpin.

Bermakna, pemimpin yang adil tidak lahir dengan sendirinya, banyak proses yang dia lakukan sebelumnya untuk memastikan bahwa dia akan adil ketika menjadi seorang pemimpin.

Penulis mencoba menghubung kaitkan antara hadits di atas dengan proses menjadi seorang pemimpin yang adil.

  1. Pemimpin mendapatkan capadil pada saat bertindak atau purna tugas, pengakuan akan lahir, dan tak akan terjadi hal tersebut sebelum melaksanakan kepemimpinan. Maka perlu proses yang dapat diketahui oleh pemilih tentang karakter sebelumnya.
  2. Berawal dari masa hidupnya, Ketika muda dia adalah seorang yang menyibukan dirinya untuk beribadah kepada Allah, baik mahdoh ataupun ghoiru mahdoh, baik ritual maupun aktual. Ibadah dalam arti luas. Ibadahnya dengan sang Kholiq tanpa meninggalkan statusnya sebagai makhluk sosial, karena pada dasarnya, sosialnya manusia adalah ibadah juga.
  3. Penyakit hati adalah sumber tingkahlaku dan akhlak dari manusia, wa idza soluhat, apabila hatinya baik maka akan baik pula akhlak dan budi pekertinya, ketika hati seseorang selalu ditambatkan pada masjid, tempat ibadah, tempat dimana dia berzikir dan mengingat Allah, maka tingkah lakunya akan selalu dijaga. Karena keterikatannya dengan peraturan yang dibuat oleh sang Maha K
  4. Hasil dari pada keyakinannya adalah budi pekerti dan perangai yang baik di mata manusia dan Allah, maka apapun yang terjadi, landasannya adalah niat suci karena Allah. Bekerja-sama dan memisahkan kerja-sama hanya karena Allah, duduk bersama membahas permasalahan umat hingga berpisah karena berbeda pendapat, karena Allah. Tidak ada yang berat baginya, semua dilaksanakan karena kebenaran Allah.
  5. Kehidupan dunia adalah godaan terbesar umat manusia, kita mengenal istilah harta, tahta dan wanita adalah sumber petaka jatuhnya manusia ke jurang kehancuran, jika tidak mampu menggunakannya dalam kebaikan, seorang yang sudah dinyatakan “lulus” dalam ujian hidup baik dari segi harta, tahta dan wanita maka orang tersebut sukses dalam menjalani hidup. Maka ketika sudah menjadi pemimpin, harta dan wanita tidak menjadi kendala bagi dirinya dalam melaksanakan menjaga tahtanya.
  6. Tentu saja setiap manusia akan melihat seseorang dari yang jelas dan kasat mata dahulu, sebelum melihat sifatnya, seseorang yang bershodaqoh tanpa mengharapkan apa-apa adalah landasan manusia dalam menilai, tidak hanya ketika mendekati pemilu saja, tidak hanya ketika berbenturan dari maksud dan tujuan saja, tapi dia terbiasa untuk memberikan harta, tenaga dan apa saja yang dia miliki, yang mampu dia berikan, akan dia lakukan, bukan hanya sekali, dua kali, tapi berkali-kali dalam hidupnya, disaksikan maupun tidak disaksikan oleh orang lain.
  7. Introspeksi diri adalah hal yang sering dilupakan seorang pemimpin. Selalu diliputi kekuasaan, godaan dari kekuasaan membuat dirinya berat untuk mengevaluasi dirinya, menempatkan dirinya sebagai manusia biasa yang diberikan amanat oleh umat. Maka zikir, mengingat Allah dari segala kekurangan yang dilakukannya yang mengakibatkan orang lain kesulitan, sengsara atau mengakibatkan kerugian pada kelompok tertentu, akan membuatnya menagis menyesali perbuatannya, dan akan memperbaiki sikap berikutnya.

Itulah makna hubung kait antar poin pertama dengan poin-poin berikutnya dari hadits diatas yang telah disebutkan. Seorang pemimpin adil tidak lahir dengan instan, tapi uswah, tingkah laku semasa hidupnya akan menjadikannya adil dalam memimpin, karena pengalaman hidupnya, akhlaknya akan membentuk karakter kepemimpinannya. Mereka itulah orang-orang yang dilindungi Allah.

واالله في عون عبده

الفقير

Manajemen Ilahiyah

MANAJEMEN ILAHIYAH

Written by: Saefullah Abu Bakar

 

Alam semesta dan isinya adalah ciptaan Allah yang dipersiapkan untuk anak cucu Adam, manusia, sebagai Kholifah fil ardl. Segala keberkahan yang berada di dalamnya adalah pertanggung-jawaban manusia sebagai makhluk yang paling mulya. Makhluk yang paling sempurna, yang memiliki pengendalian emosi, kecerdasan dan spiritual.

Allah menciptakan sesuatu dengan proses, mengajarkan kita sebagai hamba-Nya untuk mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya, baik berbentuk qouliyah maupun kauniyah.

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ

Artinya : “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.” (QS. Huud : 7)

Adalah petunjuk Allah bagaimana memproses, memenej dan membuat planning dari penciptaan alam semesta, bukankah Allah maha kuasa, yang bisa menciptakan segalanya?

Tapi Allah mengajarkan manusia bagaimana prinsip-prinsip berorganisasi.

 

  1. Planning

Manajemen yang baik adalah manajemen yang memiliki planning, perencanaan yang akurat

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”. (Al Anfaal ayat 60)

Persiapan yang cukup  sebagai bekal terhadap program yang akan dilaksanakan adalah bentuk tawakkal, mempersiapkan segalanya adalah bagian dari pada program yang akan dilaksanakan.

Satu kisah dari berdirinya Daulah Abasiyah yang menetapkan Baghdad sebagai pusat pemerintahannya, diawali dari dikirimnya beberapa orang ahli yang meneliti daerah tersebut.Musim berganti, dari panas ke dingin dan hujan, mereka meneliti keadaan Baghdad dari musim ke musim hingga mengambil kesimpulan bahwa tanah Baghdad baik untuk ditempati.Tanah Baghdad subur untuk dijadikan pusat peradaban, hingga akhirnya sang Kholifah menetapkan Baghdad sebagai pusat pemerintahan. Lalu dikirimlah 100.000 pekerja untuk membangun pusat kota, yang menghabiskan dana sebesar 40 juta Dinar.Pada akhirnya, Baghdad menjadi pusat peradaban Islam selama kurang lebih 500 tahun.

Jika kota ini dibangun tanpa planing yang jelas, niscaya tak akan terjadi peradaban Islam, jika kota ini dibangun tanpa manajemen yang baik, niscaya kedua sungainya menjadi musibah bagi penduduknya.

 

  1. Actuating

Untuk merealisasikan sesuatu adalah langkah berat, namun dengan kebulatan tekad, dan kematangan program akan mempermudah dalam mewujudkannya.

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”(At Taubah 105).

Berbuatlah dan wujudkanlah segala yang telah diprogramkan, niscaya Allah dan Rosul-Nya menjadi saksi dalam pelaksanaannya.  Allah tidak akan melepaskan pekerjaan ummat-Nya, akan menegur bila melenceng dari program-Nya, akan meluruskan bila berbelok dari visi yang telah ditetapkan-Nya, namun kepekaan hati kitalah yang merasakannya, apakah ini teguran-Nya atau cobaan-Nya, petunjuk-petunjuk Allah melalui ayat-ayat kauniyahNya.

 

  1. Controlling

Program-program yang dilaksanakan kadang menemui halangan dan rintangan, adalah sunnatullah, tidak semudah yang direncanakan, namun dengan adanya kontrol disetiap tahapan, menjadikan permasalahan sebagai ilmu yang akan memandaikan manusia, akan menjadi batu loncatan untuk tidak mengalami hal yang sama dikemudian hari.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Al Qaaf 16-18).

Dua orang malaikat yang selalu menjaga di sisi kanan dan kiri manusia adalah bentuk kontrol Allah terhadap program yang telah digulirkan, agar manusia selalu berjalan di jalan yang telah ditetapkan Allah, yaitu menjadi kholifah di muka bumi ini.

Planning-actuating-controling adalah satu kesatuan yang selalu diikat dalam pembentukan manajemen Ilahiyah.  Allah memprogram, Allah melaksanakan dan Allah mengevaluasi dalam bentuk pertanggung-jawaban dunia maupun akhirat.

Dalam memenej ciptaan-Nya, Allah memberikan perumpamaan-perumpamaan dalam petunjuk-Nya, yaitu:

1. Fleksibel

Surat al-Hajj ayat 78:

Artinya: Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia Telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan

2. Efektif dan Efisien

Surat al-Kahfi ayat 103-104 (tentang efektif)

Artinya: Katakanlah: “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”.

Surat Al-Isra, ayat 26-27 (tentang efisien)

Artinya: Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

3. Terbuka

surat An-Nisa ayat 58 sebagai berikut:

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.

4. Cooperatif dan Partisipasif

surat al-Maidah ayat 2 sebagai berikut:

Artinya : Bertolong-menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan taqwa dan janganlah kamu bertolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. (QS. Al-Maidah ayat 2)

Semua adalah petunjuk Allah untuk manusia bagaimana berorganisasidengan baik, menunjukan manajemen Ilahiyah yang Fleksibe (tidak kaku dan mengakomodasi semua anggota), efektif dan efisien (tidak mubazir, setiap program selalu terkawal dengan teliti, bertanggung jawab setiap pengeluarannya), terbuka (melaporkan perkembangannya baik secara umum maupun dalam organisasi itu sendiri), kooperatif dan partisipatif (bekerja sama dengan berbagai macam pihak dengan memiliki konsep saling menghasilkan keuntungan yang diridloi Allah).

والله في عون عبده

الفقير

Buramisme

Buramisme

Written by: Saefullah Abu Bakar

 

Semakin hari semakin banyak manusia yang mengatas-namakan kemanusiaan, toleransi dan untuk kedamaian dunia, mengusung nilai kebersamaan, mengangkat tema humanisme, dan menyamakan semua kepercayaan.

Pluralisme agama (religious pluralism) adalah di antara ide yang diusung oleh orang-orang yang berpemahaman liberal. Trend pemikiran yang dibangun diatas dasar kebebasan berkeyakinan ini telah melabrak salah satu pilar terpenting dalam kehidupan beragama; yaitu tentang klaim kebenaran (truth claim) pada setiap agama yang diyakini pemeluknya. Hakikatnya, pluralisme agama adalah agama baru yang mencoba meruntuhkan nilai-nilai fundamental agama-agama, termasuk Islam.

Pluralisme adalah sebuah asumsi yang meletakkan kebenaran agama-agama sebagai kebenaran yang relatif dan menempatkan agama-agama pada posisi setara, apapun jenis agama itu. Pluralisme agama meyakini bahwa semua agama adalah jalan-jalan yang sah menuju Tuhan yang sama. Atau, paham ini menyatakan, bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga – karena kerelatifannya- maka seluruh agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya yang lebih benar dari agama lain atau meyakini hanya agamanya yang benar.

Mereka juga berpendapat bahwa agama adalah masalah individu, tidak mencampur adukan dengan sosial, bukankah Muhammad saw hijrah ke Madinah?  Jika agama adalah individu, kenapa Allah mengutus para nabi ke muka bumi ini.

Sebagai muslim yang taat, yang meyakini Allah sebagai pencipta, yang telah mengutus Muhammad s.a.w, untuk menyampaikan wahyu-Nya ke seluruh manusia, menyampaikan firman yang akan membawa manusia dari kegelapan kepada tempat yg benderang, dan telah menyempurnakan bagi mereka agama dan dengan nikmat-Nya, namun berkata tidak membedakan agama, dasar semua adalah kebaikan, landasannya adalah kemanusiaan, perdamaian dan yang lainnya, yang membuat buram pandangan manusia terhadap keyakinanya,  imannya sendiri.

Maka apa yang mereka yakini dengan ajaran Islam?

Pluralisme jelas bertolak belakang dengan Islam karena Allah telah menyatakan dalam al-Quran bahwa:

Pertama: Islam Satu-Satunya Agama yang Benar

وَمَنْيَبْتَغِغَيْرَالْإِسْلَامِدِينًافَلَنْيُقْبَلَمِنْهُوَهُوَفِيالْآخِرَةِمِنَالْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3]: 85)

Ayat di atas adalah ayat yang dapat dipahami teks dan konteknya jelas, tentang Islam, baik diterjemahkan agama maupun negara. Bahwa Islam satu-satunya yang diterima di sisi-Nya.

Jika kaum liberal menafsirkan makna Islam. Dengan kata damai, dalam artian umum, maka siapapun yang membawa kedamaian dialah Islam, sekali-kali tidak, Islam adalah bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, melaksanakan sholat, zakat, shoum, haji bagi yg mampu, itulah Islam.

Jika  masih berkelit juga, maka yang kedua adalah Al-Quran satu-satunya Kitab Suci Yang Harus Diikuti

Manusia,  berhukum kepada al-Quran dan wajib menjadikannya sebagai pedoman hidup, serta meninggalkan kitab-kitab suci yang lain. Allah berfirman:

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian(yang menguji kebenaran) terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al Maidah [5]: 48).

Mencari cerita yg aneh menurut muslim, dengan rujukan kitab lain(yg sampai saat ini belum bisa dinyatakan keasliannya) serta mencari seakan-akan tidak dimuat dalam al-Qur’an, seperti kisah istri ketiga Nabi Ibrohim, kisah suami Maryam dan lainnya, seakan cerita tersebut melemahkan al-Qur’an. Bukankah Allah telah menyatakan dalam ayat di atas sebagai rujukan bagi kaum muslim.

Jika masih mencari pemburaman lagi, maka yang ketiga adalah

Nabi Muhammad  satu-satunya utusan Allah yang harus diikuti dan kaum muslimin wajib meyakini bahwa beliau diutus untuk seluruh umat manusia.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al Ahzab [33]: 40

Adalah penutup para nabi. Tidak ada utusan Allah setelahnya, maka tidak ada ajaran yang haq saat ini selain ajaran yang dibawa olehnya.

Bagaimana dengan mereka yang berbuat baik di dunia, bahkan kebaikannya melebihi kaum muslim? Apakah kebaikan mereka tidak dihitung Allah?

Mereka akan mendapatkankebaikan mereka di dunianya.

Bukankah Islam datang sebagai rahmatan lil alamin?

Bukankah Islam mengajarkan jiwa-jiwa luhur dalam kehidupan dunia dan akhirat?

Jika anda yakin demikian, maka peluklah Islam dengan erat, bukan menyamakannya dengan yg lain.

Jika anda yakin demikian, maka jalanilah perintahNya dan jauhi laranganNya.

Jika anda masih ragu dengan ajaran Islam, maka evaluasilah keimanan anda, dan bertaubatlah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat.

 

Mengenal jenis-jenis hewan di dalam Al-Quran

Mengenal jenis-jenis hewan di dalam Al-Quran

Written by: Saefullah Abu Bakar

Al Quran diturunkan dengan segala kesempurnaannya, tak ada cacat satupun di dalamnya, semuanya mengandung hikmah, dari struktur kalimatnya, kosa katanya, hurufnya bahkan penulisannyapun mengandung makna.

Beberapa orientalis berpendapat, ada beberapa kalimat, kata atau penulisannya yang keluar dari qoidah-qoidah yg ditetapkan, bagaimana mungkin furu’ menyalahkan ushul, menyalahkan sumbernya, sebagaimana kita ketahui bahwa kaidah bahasa Arab, nahwu dan shorf, bersumber dari kajian ulama tentang Quran, baik dari struktur kalimat, kata, maupun penulisannya.

Bahasa Arab dahulu tidak seperti yang kita kenal sekarang, dahulu tulisan Arab tanpa harakat, tanpa tanda baca, dahulu tulisan Arab tanpa titik pembeda antara huruf, tidak ada beda antara ث،ت،ب dan tak ada beda antara عdan غ begitupun dengan huruf lainnya yg menggunakan titik untuk membedakan yang satu dengan yang lainnya.

Barulah pada masa kholifah Ali Bin Abi Tholib, bersama Abul Aswad Al Dua’li membuat tanda baca pada kalimat dalam al-Quran agar kaum muslim yang berasal dari non Arab, mampu membaca  ayat-ayat Allah tanpa kesalahan.

Allah menurunkan al-Quran dengan secara detil maupun global, ayat-ayat yang membutuhkan penjelasan dalam pelaksanaannya maka dijelaskan oleh Rosulullah dengan sunah-sunnahnya, baik melalui perkataan, perbuatan maupun persetujuan.

Banyak sekali tamsil, perumpamaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia, salah satunya tamsil dengan menyebut macam-macam binatang.

Terdapat 21 jenis binatang yang disebut Allah di dalam al Quran.

  1. Sapi ( al Baqoroh ayat 67-74)
  2. Semut ( al Naml18-19)
  3. Lebah ( al Nahl 69)
  4. Babi ( al An’am 145 dan al Maidah 3)
  5. Kuda ( al Adiyat)
  6. Domba( al Shofat 102-107)
  7. Ikan Paus( al Shofat 139-145)
  8. Ular (Thoha 65-71)
  9. Nyamuk ( al Baqoroh 26)
  10. Srigala ( Yusuf 16)
  11. Kutu ( al A’rof 133)
  12. Katak (al A’rof 133)
  13. Anjing ( al A’rof 176)
  14. Burung gagak (al Maidah 31)
  15. Lalat (al Hajj 73)
  16. Unta ( al Ghosiyah 17)
  17. Laba-laba ( al Ankabut 41)
  18. Burung Hudhud(al Naml 20)
  19. Rayap (Saba 17)
  20. Gajah (al Fiil)
  21. Dan Keledai (al Jumuah 5)

Setiap penyebutan binatang di atas, pasti berhubung kait dengan tema yang dibahas, tetapi 21 binatang inilah yang membawa kita berpikir tentang ibroh yg diberikan Allah kepada hambanya, untuk memudahkan hambanya memahami maksud yang terkandung di dalamnya, untuk lebih menyentuh perasaan hamba, dan tentunya untuk ilmu pengetahuan bagi hambanya.

Penelitian demi penelitian terungkap, ketika Allah menyebut lebah, maka manusia meneliti tentang manfaat lebah, madunya, sarangnya dan semua karakteristik kehidupan lebah yang selalu bersama, bergotong royong, dan menjaga satu sama lainnya.

Ketika Allah berbicara tentang gajah, manusia mulai meneliti tentang keistimewaan gajah yang memiliki otak yang sangat cerdas, dan daya ingat yang sangat kuat. Begitupun dengan binatang lainnya yang disebutkan Allah, memiliki ibroh, baik positifnya maupun negatifnya.

Al Quran dengan segala kesempurnaannya adalah washilah bagi manusia untuk lebih memahami tujuan hidup, darimana dan mau kemana, dari siapa dan untuk siapa. Semua kembali kepada manusia, apakah menggunakannya atau membiarkannya sebagai penghias agama.

والله فيفي عون عبده

الفقير

How to think…

How to think…

Written by: Saefullah Abu Bakar

 

Dalam hidup ini banyak sekali rahasia-rahasia yang sudah digariskan oleh Allah, semuanya adalah permainan yang telah ada skenarionya, namun manusia sebagai pemeran tidak memahami apa yang akan terjadi kelak,hanya garis besar yang jelas terpatri, yaitu Ubudiyah.

Tugas kita adalah membongkar rahasia Ilahi dengan petunjuk yang sudah diberikan kepada kita, baik berbentuk qouliyah, yaitu Qur’an dan Hadits, maupun kauniyah, isyarat-isyarat alam.

Ada beberapa tahapan berpikir yg bisa manusia lakukan:

  1. Manusia berusaha, Allahlah yg menentukan segalanya.

Di dalam berprogram, kita melaksanakan semua yang sudah disepakati, baik tertulis maupun tak tertulis, ketika pemahaman telah disepakati, maka prakteklah yang akan menentukan keberhasilannya, memenuhi qodar dalam sesuatu, adalah bentuk konsistensi manusia dalam berprogram, dan Allahlah sang pemegang qodlo tersebut.

Semua ketetapan berada di tangan Allah.

قُلْإِنَّالأَمْرَكُلَّهُلِلَّهِيُخْفُونَفِيأَنفُسِهِممَّالاَيُبْدُونَلَكَيَقُولُونَلَوْكَانَلَنَامِنَالأَمْرِشَيْءٌمَّاقُتِلْنَاهَاهُنَاقُللَّوْكُنتُمْفِيبُيُوتِكُمْلَبَرَزَالَّذِينَكُتِبَعَلَيْهِمُالْقَتْلُإِلَىمَضَاجِعِهِمْوَلِيَبْتَلِيَاللّهُمَافِيصُدُورِكُمْوَلِيُمَحَّصَمَافِيقُلُوبِكُمْوَاللّهُعَلِيمٌبِذَاتِالصُّدُورِ

 

. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.”

Maka apa yang semestinya kita lakukan dalam berprogram?

  1. Usaha maksimal, sesuai program

Memaksimalkan apa yang telah disepakati, kemudian menyerahkannya kepada Allah, sang pengatur segalanya.

فَبِمَارَحْمَةٍمِّنَاللَّهِلِنتَلَهُمْ ۖ وَلَوْكُنتَفَظًّاغَلِيظَالْقَلْبِلَانفَضُّوامِنْحَوْلِكَ ۖ فَاعْفُعَنْهُمْوَاسْتَغْفِرْلَهُمْوَشَاوِرْهُمْفِيالْأَمْرِ ۖ فَإِذَاعَزَمْتَفَتَوَكَّلْعَلَىاللَّهِ ۚ إِنَّاللَّهَيُحِبُّالْمُتَوَكِّلِينَ

Apabila engkau telah berazam, maka bertawakalah kepada Allah.

Tawakkal adalah rangkaian proses, thoriqot, yang harus ditempuh, azam adalah program yang telah disepakati. Dalam beberapa prinsip hidup yang dikatakan” bekerja tanpa do’a adalah sombong, sebaliknya, berdo’a tanpa bekerja adalah putus asa”

Memperbaiki cara kita berpikir karena keinginan untuk mencari tahu jawaban atas persoalan (Inquisitive Thinking)

Disadari atau tidak, terkadang kita akan menemukan pola dimana cara berpikir kita ditentukan dengan adanya persoalan yang menimpa kita. Mengapa peristiwa ini terjadi? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Dsb.

  1. Evaluasi, jalan memperbaiki keadaan.

Manfaat mengutarakan persoalan dengan mengungkapkan berbagai pertanyaan kritis banyak terdapat dalam ayat-ayat Al-Quran agar manusia berpikir tentang kewujudan dan keesaan Allah.

QS Al-A’raf [7]: 172 dalam firman Allah disebutkan “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”.

Adalah bentuk jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari diri manusia, bentuk kritis terhadap penciptaan diri, digambarkan dalam ayat di atas, sunnah manusia untuk mengetahui jati diri, sebagaimana Ibrohim a.s yang selalu timbul dalam dirinya pertanyaan betulkah keyakinan bapak moyangnya, benarkah tuhan yang disembahnya, sehingga timbul hidayah Allah dalam pencariannya.

Begitu juga pikiran kritis di dalam berprogram, kritis bermakna evaluasi rutin terhadap program, bukan sesuatu yang tabu dalam melaksanakannya, Do and write, write and do.

  1. Berpikir dengan Rasional (Rational Thinking)

Perhatikan QS Al-Anbiya [21]:22 yang berbunyi Sekiranya ada di antara kedua-duanya (langit dan bumi) Ilah (Tuhan-Tuhan) selain Allah, tentulah binasa kedua-duanya. Subhanallah (Maha Suci Allah), Rab (Tuhan) ‘Arash, daripada apa yang mereka sifatkan.

Dalam hal ini Allah memberikan keleluasaan bagi manusia untuk berpikir bebas, lepas, agar memahami ilahiyah Allah sesuai dengan koredor otak manusia.

Maka semua peraturan Allah yang ditetapkan untuk manusia adalah rasional, bisa diolah otak manusia, agar menjadikan iman manusia berdasarkan kesadaran mereka, dan mengakui ilahiyah Allah dengan sadar sebagaimana Ibrohim a.s menyadarinya dengan sepenuh hati berdasarkan proses yang panjang.

Begitupun dalam melaksanakan program, rasional menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan, ayat kauniyah, tanda-tanda keberhasilan dan kesuksesan program menjadi motivasi untuk berkarya lebih baik lagi, kepuasan publik sebagai ukuran, tentunya ukuran keridhoan Allah, begitupula dengan kemandegan program, dan kegagalannya, adalah bentuk evaluasi diri agar berinovasi dan berkembang, kegagalan berdasarkan ukuran yang jelas dan target yang telah disepakati dalam setiap program.

 

و الحمد لله رب العالمين

والله في عون عبده

الفقير

Ayat pamungkas

AYAT PAMUNGKAS
Written by: Saefullah Abu Bakar

Al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan secara berangsur-angsur kepada baginda nabi Muhammad s.a.w, selama 23 tahun, yakni 13 tahun di tempat kelahiran nabi yaitu kota Mekah, dan 10 tahun di Madinah, ayat-ayat yang turun di kota Mekah dinamakan Makkiyah, dan ayat-ayat yang turun di kota Madinah dinamakan Madaniyah. Banyak ayat-ayat Makkiyah berbicara tentang ubudiyah, aqidah, dan ke-esaan Allah, sedangkan ayat-ayat Madaniyah, banyak berbicara tentang amaliyat muamalah.
Sering kita mendengar tentang jumlah ayat dalam quran yaitu 6666 ayat, namun bila kita hitung dan kita jumlahkan ayat dalam surat-surat al-Quran, hanya berjumlah 6.236 saja, atau ketika ditambahkan basmalah disetiap surat, hanya 112 ditambah 6.236 berjumlah 6.348 saja.
Ada memang yang berpendapat bahwa jumlah 6666 adalah jumlah turunnya ayat, bukan jumlah ayat tersebut, karena beberapa ayat yang tidak turun sekaligus, tetapi potongan-potongan saja, sesuai asbabu nuzulnya.
Berbicara tentang ayat yang turun, semua ulama bersepakat bahwa surat al-Alaq ayat 1-5 adalah ayat yang pertama kali turun kepada baginda Rosul di gua Hira, ketika usia nabi Muhammad s.a.w menginjak 40 tahun. Dengan berbekal ayat inilah baginda mulai berdakwah baik secara rahasia maupun terbuka.
Namun ulama masih berselisih pendapat tentang ayat terakhir yang turun kepada nabi Muhammad s.a.w, dari mereka ada yang berpendapat:
1. Ayat yang terakhir turun adalah surat al-Baqoroh: 278

ياأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوااتَّقُوااللَّهَوَذَرُوامَابَقِيَمِنَالرِّباإِنْكُنْتُمْمُؤْمِنِينَفَإِنْلَمْتَفْعَلُوافَأْذَنُوابِحَرْبٍمِنَاللَّهِوَرَسُولِهِ

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba, jika kalian beriman. Jika kalian tidak mau melaksanakannya maka umumkan untuk berperang dengan Allah dan rasul-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 278 sampai ayat 281)

Soheh Bukhari dalam shahihnya (3/59). Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, membaca ayat tersebut kemudian beliau mengatakan:

هَذِهِآخِرُآيَةٍنَزَلَتْعَلَىالنَّبِيِّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ
Ini adalah ayat yang terakhir turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

2. Ada pula yang mengatakan, ayat terakhir adalah surat al-Baqoroh ayat 281

واتَّقُوايَوْماًتُرْجَعُونَفِيهِإِلَىاللَّهِثُمَّتُوَفَّىكُلُّنَفْسٍمَاكَسَبَتْوَهُمْلايُظْلَمُونَ

Dan takutlah kalian terhadap hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak didzalimi.” (QS. Al-Baqarah: 281).

Pendapat ini sebagaimana keterangan dari Ibnu Abbas dan Said bin Jubair yang diriwayatkan An-Nasai.

 

3. يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئاً .

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya…” (QS. Al-Baqarah: 282)

Diriwayatkan dari Said bin Jubair, bahwa telah sampai kepada beliau
أن أحدث القرآن عهداً بالعرش آية الدين
Bahwa Alquran yang terakhir kali meninggalkan Arsy adalah ayat tentang hutang.

 

4. Dan yang ke empat ini pendapat yang sering kita dengar yaitu surat al Maidah ayat 3

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Ayat ini turun setelah nabi Muhammad s.a.w menyampaikan syariat secara menyeluruh ketika pelaksanaan haji Wada’ yang dihadiri lebih 40 ribu jamaah, pada masa itu. Kemudian beliau menerima wahyu ini, yaitu surat al-Maidah ayat 3, menekankan telah sempurna nikmat Allah yang diberikan kepada umat nabi Muhammad s.a.w dalam bentuk syariat hidup. Sebagai pedoman untuk mengarungi hidup sampai akhir zaman, jika umatnya tetap berpegang teguh terhadap syariat yang disampaikan baginda, maka selamatlah manusia, dan kembali kepada Ilahi robbdengan keadaan yang penuh rahmat.

5. Menurut kaum syi’ah, ayat yang terakhir turun adalah surat al Maidah ayat 67. Pada saat Ghodir qum, di sebuah lembah antar Mekah dan Madinah. Setelah sekembalinya umat Muslim dari haji Wada`, kemudian nabi memberhentikan jama’ahnya di sebuah lembah yang dikenal dengan Ghodir qum, nabipun meminta jama’ah yang sudah lebih awal untuk kembali, dan jama’ah yang masih di belakang agar bergerak cepat dan bergabung. Bagindapun naik ke tempat yang paling tinggi dan menyampaikan

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (67)
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(al-Maidah 67).

Mereka berpendapat satu hal yang belum disampaikan nabi ketika melaksanakan haji Wada dan dalam khutbah Wada adalah tentang estapeta kepemimpinan setelah beliau, maka ayat ini menekankan bahwa Ali bin Abi Tholib ditetapkan oleh nabi sebagai al washi, pemegang washiat kepemimpinan,memanggil Ali dan membay’atnya di depan ribuan jama’ah yang hadir pada saat itu, setelah Rosul membay’at, diikuti oleh para sahabat yang lain seperti Abu Bakar, Umar, dan Usman rodhiayallahu ‘anhum. Maka setelah Rosulullah menyampaikan washiat tersebut, tuntaslah perjalanan Rosulullah di muka bumi ini, ajaran dengan semua syariat-Nya sudah disampaikan, dan penerusnya yang disebut al washi pun sudah disampaikan kepada ummatnya. Maka sempurnalah ajaran baginda Rosul.

والله في عون عبده

الفقير